Terima Kasih Semua
“Tidak
banyak yang bisa ku tuangkan dalam kertas ini, hanya harapan, do’a, impian, juga
angan ku untuk tetap bersama kalian semua", tulisku di buku DIARY ku. Buku
itu pemberian sahabat ku yang sangat dekat, bahkan ku anggap dia sebagai
saudara kandung ku sendiri. Tapi, mungkin itu akan berakhir sebentar lagi. Ya,
mengapa ku katakan sebentar lagi? Aku sekarang berumur 16 tahun, dan 5 tahun
yang lalu, aku si fonis dokter terkena penyakit kanker. Kanker itu menyerang
tubuh ku terutama wajah ku, sehingga membuat rambut ku rontok sehingga membuat
ku botak dan terlihat sangar, dan badan ku pun makin hari makin mengurus juga
melemas, hal itu juga yang membuat ku harus terpaksa berhenti sekolah dan
mengurangi banyak kegiatan ku di luar rumah. Bahkan berjalan-jalan pun aku di
larang oleh dokter. Dan dokter memperkirakan waktu ku hidup hanya tinggal
beberapa hari lagi.
Hari itu,
teman-teman sekelas ku menjenguk ku, tidak lupa juga sahabat ku, Tias namanya.
" Hay puput, wih-wih yang enak-enak kan tidur di kamar sambil ngelamun nih,
ehmm... nulis apa Put? Sapa dan tanya Tias padaku. Hanya senyuman kecil dan
gelengang yang menjadi jawaban ku, karena badan lemas tak berdaya. "Ayo
Put, semangat. Jangan mau kalah sama penyakit kamu! kamu kan kuat, pintar, juga
seru, tapi juga jail sih. hehe.. " Sahut si Deni teman lelaki ku. " Kamu ni Den, orang lagi sakit malah ngomongin kalo aku jahil." Kataku
menjawab semangat yang di berikan Deni kepada ku. " Entah Deni ini,
mungkin dia udah kehabisan obat kali Put? makanya dia rada-rada gitu deh
." Teman yang lain ikut menyambung percakapan kami ber-3.
Senang
rasanya masih bisa berkumpul dengan teman-teman, hitung-hitung buat kenang-kenangan
buat aku juga mereka. Rasanya hidup ku masih lama di dunia ini. " Put, ayo
minum obat dulu." Kata ibu ku sembari memasuki kamar ku yang penuh dengan
keceriaan dan tawa bersama teman-temanku. " Iya mah ." Sahut balik.
Teman- teman ku hanya melihat ku dengan mata yang berkaca-kaca, aku tau apa
yang mereka pikirkan. Mereka memikirkan bahwa dengan obat yang ku minum sehari
7 kali ini, ku akan sembuh dan kembali lagi bersama mereka. Tapi tidak dengan
sahabatku Tias, Tias tahu bahwa umur ku tidak panjang lagi. Akhirnya setelah aku
selesai meminum obat tadi, hati ku terasa lebih lega. Karena aku seperti ada
harapan untuk hidup kembali, walaupun kenyataannya berkata lain.
" Put,
emangnya kamu nggak ngerasa mual atau apa gitu kalo tiap hari harus minum obat
sebanyak itu ? Kalo aku mungki udah mati dari kemaren Put, liatnya aja udah
merinding.. hii ." Kata Ranto, tiba-tiba Tias menyengngol badan Ranto,
bermaksud untuk tidak bilang seperti itu padaku. " Sudah lah Tias, tak
apa. Nggak kok Ran, kan aku harus minum itu supaya bisa bertahan hidup dan bisa
berkumpul lagi sama kalian semua, bisa sekolah lagi. " sahut ku membalas
Ranto tadi. Mereka hanya membalas dengan senyuman.
*SKIP
Besoknya Di meja Makan
Uhukk..
uhukk.. Batuk ku sangat keras sehingga darah ikut keluar. " Puput, kamu
kenapa nak? Kak ayo bawa adik ke RSUD " kata ayah ku yang sudah khawatir
dengan keadaan ku. Karena aku sangat pucat, badan ku juga sudah sangat dingin. Ibuku juga sudah ketakutan melihat ku, akhirnya di angkatlah aku ke dalam mobil kami. Selama berada di perjalanan ke Rumah Sakit, Ibu dan kakakku terus memeluk dan mencoba
menghangatkan badan ku yang seperti orang mati ini. Ayah ku juga selalu
menyemangati ku walaupun ayah sedang mengemudikan mobil. “ Ayo nak bertahan,
jangan mau kalah sama penyakit ini sayang! Mama, papa, dan kakak selalu
ngedukung dan menyuport kamu sayang " Kata Ayah ku sambil menahan tangis.
“ Put, nanti kalau kamu sembuh kakak ajak ke mana pun kamu mau deh Put. Tapi
kamu harus sembuh dulu ya. Adik kakak pasti kuat kok . " Kak Alex juga
memberi ku suport agar aku tetap kuat dan bertahan. Tapi apa daya, badan ku
sudah lemas. Aku tidak bisa apa-apa, hanya senyuman kecil yang ku paksa kan
karena terasa sulit bagiku untuk menggerakkan bibir ku. Air mata kami semua pun
tidak bisa tertahan kan. Ayah, Mamah, Kakak, bahkan aku sendiri pun ikut
menangis.
Di dalam
hati aku berdo’a dan berharap kepada Tuhan, " Tuhan, jika kau masih
memberi ku kesempatan padaku untuk merasakan hangatnya dunia, riang nya
kebersamaan, dan melihat tawa mereka semua, aku berjanji. Aku tidak akan lagi
membuat mereka menangis bersedih karena ku. Aku tidak ingin menjadi beban bagi
mereka semua. Aku ingin membahagiakan mereka semua. Dan menyayangi mereka
dengan ketulusan . "
Entah mengapa, rasanya semua menjadi
gelap dan pendengaran ku mulai berkurang dan menyamar tidak jelas. Bahkan
seakan-akan nyawa ku ingin di cabut oleh malaikat. Aku hanya pasrah dan
berserah pada Tuhan, sambil berdo’a kepada Tuhan.
*SKIP "
Rumah Sakit "
" Mah… Pah… adik udah sadar
nih… " Teriak kak Alex memanggil ayah dan mamah ku. " Kak, aku
dimana? Kenapa badan ku serasa tidak ada tulangnya? Apa Tuhan ingin mengakhiri
hidup ku di dunia saat ini juga Kak ? " Tanya ku kepada kakak ku. "
Ih, Put kamu nggak boleh ngomong gitu, nanti kalo Ayah sama Mamah denger
mereka nangis lo Put ! " Kraakkk… Pintu kamar tempat aku di rawat terbuka
dengan pelan. " Kamu nggak papa kan sayang? Ibu sama ayah udah khawatir
banget sama kamu. " Dalam hati ingin ku jawab seperti yang ku bilang pada
kakak ku tadi, tapi aku tidak tega jika melihat ke-2 orang tua ku menangis
sedih karena ku. " Nggak Bu, Yah. Puput nggak papa kok, Puput senang kita bisa kumpul kayak gini. Puput berharap bisa lebih lama kita berkumpul seperti ini.
Bercanda ria, tertawa bersama, juga menggangu kakak yang sedang asyik dengan
laptop nya. " Mereka hanya tersenyum, Mamah ku langsung memeluk ku dengan
erat, sehingga membuat ku sempat sesak. Dan malam ini terasa begitu indah, seakan aku tidak akan pernah terpisah dari mereka. Ya Tuhan, aku tidak ingin pergi saat ini, aku masih ingin melihat dan merasakan suasana dan keadaan seperti ini Ya Tuhan. Ungkap ku dalam hati kecil ku, ynag menahan tangis tak terluap kan.
Ke esok kan harinya, karena hari itu
hari Minggu, teman-teman ku menjenguk ku ke Rumah Sakit. Aku yang masih tidak bisa apa-apa, hanya tersenyum melihat kedatangan mereka, kulihat Tias yang seakan
tidak sanggup masuk ke dalam ruangan karena melihat ku terkapar lemah tak
berdaya. Tetapi, karena paksaan teman-teman yang lainnya, akhirnya dia mau
masuk dan menemui ku. Setibanya di dekat ku, Tias lalu memeluk ku dengan isak tangis juga air mata yang membasahi wajah nya yang cantik dan baju pasien yang ku
pakai. " Put, kamu nggak boleh pergi ninggalin kami semua, kamu nggak
boleh ngelanggar janji kita semua untuk selalu sama-sama sampai nanti kita punya
keluarga masing-masing.Kami nggak mau kehilangan
kamu Put. " Kata Tias yang masih memeluk ku. " Iya Tias, aku akan
berusaha sekuat tenaga untuk nggak ngelanggar janji itu, aku juga akan berusaha
biar masih disini sama kalian semua. Tapi, kalau nanti takdir berkata lain,
kamu sama teman-teman yang lainya jangan lupain aku ya Yas. " Sembari aku
melepaskan pelukan Tias yang lama kelamaan membuat ku sesak. Memang akhir-akhir
ini aku sering sesak tak jelas apa penyebabnya, mungkin karna penyakit Asma yang
juga ku idam ini.
Jam 12 siang, mereka ingin beranjak
pulang dari Rumah Sakit. Tapi sebelumnya aku sempat menitip pesan kepada
semuanya, termasuk keluargaku. " Maafkan kesalahan aku ya temen-temen,
kak. Yah, bu. Puput tau, umur Puput nggak akan panjang lagi, jadi aku harap kalian
semua bisa memaafkan kesalahan Puput yang Puput sengaja atau tidak sengaja,
yang aku sadari menyakiti kalian atau pun sebaliknya. Khusus buat mamah, ayah,
dan kakak, Puput harap kalian semua bisa menerima kepergian Puput jika memang
Tuhan tidak mengizinkan Puput berada di sini lama. Mungkin aku lebih sering
membuat kalian semua bersedih sehingga mengeluarkan air mata. Terima kasih mamah,
ayah, dan kakak yang udah mau ngerawat Puput sejak kecil, jaga Puput sejak
kecil, dan menghibur juga menemani Puput saat Puput sedang sedih, senang,
maupun yang lainnya. Temen-temen semua, terutama buat sahabat terdekat ku Tias,
makasih udah mau jadi sahabat sejati buat ku, udah mau nemenin aku di saat aku
susah, sedih, maupun senang. Terima kasih semua. Maaf kan kesalahan Puput ya . "
Tidak lama kemudian, badan ku serasa bergetar dan nafas ku mulai tak karuan. Detak denyut jantung ku pun mulai tidak stabil lagi, badan ku terasa kaku dan
entah apa yang membuat ku seperti ini.
Di dalam hati aku membayangkan begini kah
rasanya jika ingin mati? Begini kah rasanya jika maut akan menjemput ku? Tidak
ada yang bisa menjawab pertanyaan ku yang tak bias ku ungkap kan ini. Tiba-tiba
aku merasa seperti seluruh anggota tubuh ku tidak bias berfungsi lagi, dan aku merasa nyawaku membuat ku tersedak. Sehingga sulit untuk berbicara da bernafas. Lalu, ajal yang ku tunggu akhirnya menjemput ku.
Akhirnya
Puput menghembuskan nafas terakhirnya dan telah meninggalkan mereka semua, dan
perkataan itu tadi menjadi kalimat terakhirnya untuk kami. Terima kasih Put, kamu inspirasi bagi kami semua.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar