Senin, 08 Desember 2014

Cerpen ku

Terima Kasih Semua

“Tidak banyak yang bisa ku tuangkan dalam kertas ini, hanya harapan, do’a, impian, juga angan ku untuk tetap bersama kalian semua", tulisku di buku DIARY ku. Buku itu pemberian sahabat ku yang sangat dekat, bahkan ku anggap dia sebagai saudara kandung ku sendiri. Tapi, mungkin itu akan berakhir sebentar lagi.  Ya, mengapa ku katakan sebentar lagi? Aku sekarang berumur 16 tahun, dan 5 tahun yang lalu, aku si fonis dokter terkena penyakit kanker. Kanker itu menyerang tubuh ku terutama wajah ku, sehingga membuat rambut ku rontok sehingga membuat ku botak dan terlihat sangar, dan badan ku pun makin hari makin mengurus juga melemas, hal itu juga yang membuat ku harus terpaksa berhenti sekolah dan mengurangi banyak kegiatan ku di luar rumah. Bahkan berjalan-jalan pun aku di larang oleh dokter. Dan dokter memperkirakan waktu ku hidup hanya tinggal beberapa hari lagi.

Hari itu, teman-teman sekelas ku menjenguk ku, tidak lupa juga sahabat ku, Tias namanya. " Hay puput, wih-wih yang enak-enak kan tidur di kamar sambil ngelamun nih, ehmm... nulis apa Put? Sapa dan tanya Tias padaku. Hanya senyuman kecil dan gelengang yang menjadi jawaban ku, karena badan lemas tak berdaya. "Ayo Put, semangat. Jangan mau kalah sama penyakit kamu! kamu kan kuat, pintar, juga seru, tapi juga jail sih. hehe.. " Sahut si Deni teman lelaki ku. " Kamu ni Den, orang lagi sakit malah ngomongin kalo aku jahil." Kataku menjawab semangat yang di berikan Deni kepada ku. " Entah Deni ini, mungkin dia udah kehabisan obat kali Put? makanya dia rada-rada gitu deh ." Teman yang lain ikut menyambung percakapan kami ber-3.

Senang rasanya masih bisa berkumpul dengan teman-teman, hitung-hitung buat kenang-kenangan buat aku juga mereka. Rasanya hidup ku masih lama di dunia ini. " Put, ayo minum obat dulu." Kata ibu ku sembari memasuki kamar ku yang penuh dengan keceriaan dan tawa bersama teman-temanku. " Iya mah ." Sahut balik. Teman- teman ku hanya melihat ku dengan mata yang berkaca-kaca, aku tau apa yang mereka pikirkan. Mereka memikirkan bahwa dengan obat yang ku minum sehari 7 kali ini, ku akan sembuh dan kembali lagi bersama mereka. Tapi tidak dengan sahabatku Tias, Tias tahu bahwa umur ku tidak panjang lagi. Akhirnya setelah aku selesai meminum obat tadi, hati ku terasa lebih lega. Karena aku seperti ada harapan untuk hidup kembali, walaupun kenyataannya berkata lain.

" Put, emangnya kamu nggak ngerasa mual atau apa gitu kalo tiap hari harus minum obat sebanyak itu ? Kalo aku mungki udah mati dari kemaren Put, liatnya aja udah merinding.. hii ." Kata Ranto, tiba-tiba Tias menyengngol badan Ranto, bermaksud untuk tidak bilang seperti itu padaku. " Sudah lah Tias, tak apa. Nggak kok Ran, kan aku harus minum itu supaya bisa bertahan hidup dan bisa berkumpul lagi sama kalian semua, bisa sekolah lagi. " sahut ku membalas Ranto tadi. Mereka hanya membalas dengan senyuman.

*SKIP Besoknya Di meja Makan

Uhukk.. uhukk.. Batuk ku sangat keras sehingga darah ikut keluar. " Puput, kamu kenapa nak? Kak ayo bawa adik ke RSUD " kata ayah ku yang sudah khawatir dengan keadaan ku. Karena aku sangat pucat, badan ku juga sudah sangat dingin. Ibuku juga sudah ketakutan melihat ku, akhirnya di angkatlah aku ke dalam mobil kami. Selama berada di perjalanan ke Rumah Sakit, Ibu dan kakakku terus memeluk dan mencoba menghangatkan badan ku yang seperti orang mati ini. Ayah ku juga selalu menyemangati ku walaupun ayah sedang mengemudikan mobil. “ Ayo nak bertahan, jangan mau kalah sama penyakit ini sayang! Mama, papa, dan kakak selalu ngedukung dan menyuport kamu sayang " Kata Ayah ku sambil menahan tangis. “ Put, nanti kalau kamu sembuh kakak ajak ke mana pun kamu mau deh Put. Tapi kamu harus sembuh dulu ya. Adik kakak pasti kuat kok . " Kak Alex juga memberi ku suport agar aku tetap kuat dan bertahan. Tapi apa daya, badan ku sudah lemas. Aku tidak bisa apa-apa, hanya senyuman kecil yang ku paksa kan karena terasa sulit bagiku untuk menggerakkan bibir ku. Air mata kami semua pun tidak bisa tertahan kan. Ayah, Mamah, Kakak, bahkan aku sendiri pun ikut menangis.

Di dalam hati aku berdo’a dan berharap kepada Tuhan, " Tuhan, jika kau masih memberi ku kesempatan padaku untuk merasakan hangatnya dunia, riang nya kebersamaan, dan melihat tawa mereka semua, aku berjanji. Aku tidak akan lagi membuat mereka menangis bersedih karena ku. Aku tidak ingin menjadi beban bagi mereka semua. Aku ingin membahagiakan mereka semua. Dan menyayangi mereka dengan ketulusan . "
            Entah mengapa, rasanya semua menjadi gelap dan pendengaran ku mulai berkurang dan menyamar tidak jelas. Bahkan seakan-akan nyawa ku ingin di cabut oleh malaikat. Aku hanya pasrah dan berserah pada Tuhan, sambil berdo’a kepada Tuhan.

*SKIP " Rumah Sakit "

            " Mah… Pah… adik udah sadar nih… " Teriak kak Alex memanggil ayah dan mamah ku. " Kak, aku dimana? Kenapa badan ku serasa tidak ada tulangnya? Apa Tuhan ingin mengakhiri hidup ku di dunia saat ini juga Kak ? " Tanya ku kepada kakak ku. " Ih, Put kamu nggak boleh ngomong gitu, nanti kalo Ayah sama Mamah denger mereka nangis lo Put ! " Kraakkk… Pintu kamar tempat aku di rawat terbuka dengan pelan. " Kamu nggak papa kan sayang? Ibu sama ayah udah khawatir banget sama kamu. " Dalam hati ingin ku jawab seperti yang ku bilang pada kakak ku tadi, tapi aku tidak tega jika melihat ke-2 orang tua ku menangis sedih karena ku. " Nggak Bu, Yah. Puput nggak papa kok, Puput senang kita bisa kumpul kayak gini. Puput berharap bisa lebih lama kita berkumpul seperti ini. Bercanda ria, tertawa bersama, juga menggangu kakak yang sedang asyik dengan laptop nya. " Mereka hanya tersenyum, Mamah ku langsung memeluk ku dengan erat, sehingga membuat ku sempat sesak. Dan malam ini terasa begitu indah, seakan aku tidak akan pernah terpisah dari mereka. Ya Tuhan, aku tidak ingin pergi saat ini, aku masih ingin melihat dan merasakan suasana dan keadaan seperti ini Ya Tuhan. Ungkap ku dalam hati kecil ku, ynag menahan tangis tak terluap kan.
            Ke esok kan harinya, karena hari itu hari Minggu, teman-teman ku menjenguk ku ke Rumah Sakit. Aku yang masih tidak bisa apa-apa, hanya tersenyum melihat kedatangan mereka, kulihat Tias yang seakan tidak sanggup masuk ke dalam ruangan karena melihat ku terkapar lemah tak berdaya. Tetapi, karena paksaan teman-teman yang lainnya, akhirnya dia mau masuk dan menemui ku. Setibanya di dekat ku, Tias lalu memeluk ku dengan isak tangis juga air mata yang membasahi wajah nya yang cantik dan baju pasien yang ku pakai. " Put, kamu nggak boleh pergi ninggalin kami semua, kamu nggak boleh ngelanggar janji kita semua untuk selalu sama-sama sampai nanti kita punya keluarga masing-masing.Kami nggak mau  kehilangan kamu Put. " Kata Tias yang masih memeluk ku. " Iya Tias, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk nggak ngelanggar janji itu, aku juga akan berusaha biar masih disini sama kalian semua. Tapi, kalau nanti takdir berkata lain, kamu sama teman-teman yang lainya jangan lupain aku ya Yas. " Sembari aku melepaskan pelukan Tias yang lama kelamaan membuat ku sesak. Memang akhir-akhir ini aku sering sesak tak jelas apa  penyebabnya, mungkin karna penyakit Asma yang juga ku idam ini.

            Jam 12 siang, mereka ingin beranjak pulang dari Rumah Sakit. Tapi sebelumnya aku sempat menitip pesan kepada semuanya, termasuk keluargaku. " Maafkan kesalahan aku ya temen-temen, kak. Yah, bu. Puput tau, umur Puput nggak akan panjang lagi, jadi aku harap kalian semua bisa memaafkan kesalahan Puput yang Puput sengaja atau tidak sengaja, yang aku sadari menyakiti kalian atau pun sebaliknya. Khusus buat mamah, ayah, dan kakak, Puput harap kalian semua bisa menerima kepergian Puput jika memang Tuhan tidak mengizinkan Puput berada di sini lama. Mungkin aku lebih sering membuat kalian semua bersedih sehingga mengeluarkan air mata. Terima kasih mamah, ayah, dan kakak yang udah mau ngerawat Puput sejak kecil, jaga Puput sejak kecil, dan menghibur juga menemani Puput saat Puput sedang sedih, senang, maupun yang lainnya. Temen-temen semua, terutama buat sahabat terdekat ku Tias, makasih udah mau jadi sahabat sejati buat ku, udah mau nemenin aku di saat aku susah, sedih, maupun senang. Terima kasih semua. Maaf kan kesalahan Puput ya . " Tidak lama kemudian, badan ku serasa bergetar dan nafas ku mulai tak karuan. Detak denyut jantung ku pun mulai tidak stabil lagi, badan ku terasa kaku dan entah apa yang membuat ku seperti ini.

            Di dalam hati aku membayangkan begini kah rasanya jika ingin mati? Begini kah rasanya jika maut akan menjemput ku? Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ku yang tak bias ku ungkap kan ini. Tiba-tiba aku merasa seperti seluruh anggota tubuh ku tidak bias berfungsi lagi, dan aku merasa nyawaku membuat ku tersedak. Sehingga sulit untuk berbicara da bernafas. Lalu, ajal yang ku tunggu akhirnya menjemput ku.

            Akhirnya Puput menghembuskan nafas terakhirnya dan telah meninggalkan mereka semua, dan perkataan itu tadi menjadi kalimat terakhirnya untuk kami. Terima kasih Put, kamu inspirasi bagi kami semua.


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar